Google Translate
function googleTranslateElementInit() {
new google.translate.TranslateElement({
pageLanguage: 'id',
includedLanguages: 'zh-CN,da,nl,fi,fr,de,it,ja,no,pl,pt,ru,es,sv,en'
}, 'google_translate_element');
}
Health
Jumlah Pengunjung
Lnk Eksternal
Diberdayakan oleh Blogger.
Mengenai Saya
Labels
- News (2)
Labels
- News (2)
Blogger templates
Latest Post
Written By MIN Kauman Utara Jombang on Rabu, 29 Oktober 2014 | 07.41
Written By MIN Kauman Utara Jombang on Kamis, 06 Desember 2012 | 05.20
Memahami Kembali Makna Idul Fitri
Written By MIN Kauman Utara Jombang on Selasa, 09 Oktober 2012 | 22.25
Ketika mendengar kata Idul Fitri, tentu dalam benak setiap
orang yang ada adalah kebahagiaan dan kemenangan. Dimana pada hari itu, semua
manusia merasa gembira dan senang karena telah melaksanakan ibadah puasa
sebulan penuh.
Dalam Idul Fitri juga ditandai dengan adanya ”mudik (pulang
kampung)” yang notabene hanya ada di Indonesia. Selain itu, hari raya Idul
Fitri juga kerap ditandai dengan hampir 90% mereka memakai sesuatu yang baru,
mulai dari pakaian baru, sepatu baru, sepeda baru, mobil baru, atau bahkan
istri baru (bagi yang baru menikah).
Maklum saja karena perputaran uang
terbesar ada pada saat Lebaran. Kalau sudah demikian, bagaimana sebenarnya
makna dari Idul Fitri itu sendiri. Apakah Idul Fitri cukup ditandai dengan sesuatu
yang baru, atau dengan mudik untuk bersilaturrahim kepada sanak saudara dan
kerabat?.
Idul Fitri (kembali ke fitrah), ya suatu hari raya yang
dirayakan setelah umat Islam melaksanakan ibadah puasa Ramadhan satu bulan
penuh. Dinamakan Idul Fitri karena manusia pada hari itu laksana seorang bayi
yang baru keluar dari dalam kandungan yang tidak mempunyai dosa dan salah.
Idul Fitri juga diartikan dengan kembali ke fitrah (awal
kejadian). Dalam arti mulai hari itu dan seterusnya, diharapkan kita semua kembali
pada fitrah. Di mana pada awal kejadian, semua manusia dalam keadaan mengakui
bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan. Dalam istilah sekarang ini dikenal
dengan ”Perjanjian Primordial” sebuah perjanjian antara manusia dengan Allah
yang berisi pengakuan ke Tuhan an, sebagaimana yang terekam dalam surah
al-A’raf (7) ayat 172 :
وَإِذْ
أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي ءَادَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ
وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا
أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ
(Dan
(ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi
mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):
“Bukankah Aku ini Tuhan-mu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami
menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak
mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah
terhadap ini (keesaan Tuhan)”).
Seiring dengan perkembangan itu sendiri, banyak di antara
manusia dalam perjalanan hidupnya yang melupakan Allah serta telah melakukan
dosa dan salah kepada Allah dan kepada sesama manusia. Untuk itu, memahami
kembali makna Idul Fitri (kembali ke fitrah) dengan membangun kembali
pengabdian hanya kepada Allah adalah sebuah keharusan sehingga kita semua dapat
menjadi hamba-hamba muttaqin dan hamba yang tidak mempunyai dosa. Dosa kepada
Allah terhapus dengan jalan bertaubat dan dosa kepada sesama manusia dapat
terhapus dengan silaturrahim.
Cara Menghapus
Dosa Kepada Allah Adalah dengan Taubat
Dosa merupakan catatan keburukan di sisi Allah yang telah
dilakukan oleh setiap manusia karena mereka tidak menjalankan perintah atau
karena mereka melanggar larangan Allah dan RasulNya.
Bulan Ramadhan merupakan bulan khusus yang dikhususkan Allah
untuk Umat Islam. Di bulan ini terdapat maghfirah, rahmah dan itqun minan nar.
Selain itu, bulan Ramadhan juga menjadi sarana umat manusia untuk memohon dan
meminta pengampunan dari Allah dengan jalan melaksanakan ibadah puasa dan
shalat tarawih. Sebagaimana hadis Rasul:
أخرج
البخاري: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلاَمٍ قَالَ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ
فُضَيْلٍ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ
صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
(Dari
Muhammad bin Salam dari Muhammad bin Faudhail dari Yahya bin Sa’id dari Abi
Salamah dari Abi Hurairah berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda : Barangsiapa
yang berpuasa pada bulan ramadhan dengan kepercayaan bahwa perintah puasa itu
dari Allah dan hanya mengharap pahala dari Allah akan diampuni dosanya).
Begitu juga Allah menyediakan Qiyam Ramadhan (Tarawih)
sebagai sarana penghapusan dosa apabila dilakukan karena Allah dan hanya
mengharap pahala dari Allah. Sebagaimana ditegaskan dalam hadis shahih pada
kitab Sunan Abi Dawud
أخرج ابي
داود : حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْمُتَوَكِّلِ قَالاَ
حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ قَالَ الْحَسَنُ فِي
حَدِيثِهِ وَمَالِكُ بْنُ أَنَسٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يُرَغِّبُ فِي قِيَامِ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَأْمُرَهُمْ بِعَزِيمَةٍ ثُمَّ
يَقُولُ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ
مِنْ ذَنْبِهِ فَتُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
وَالْأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ ثُمَّ كَانَ اْلأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ فِي خِلاَفَةِ أَبِي
بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَصَدْرًا مِنْ خِلاَفَةِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُ
(Dari
al-Hasan bin Ali dan Muhammad bin al-Mutawakkil keduanya dari Abd al-Razaq dari
al-Ma’mar dari al-Hasan dan Malik bin Anas dari al-Zuhri dari Abi Salamah dari
Abi Hurairah berkata bahwa Rasulullah SAW senang melaksanakan Qiyam Ramadhan
(Tarawih) meskipun tidak mewajibkannya. Kemudian bersabda :”Barangsiapa
melaksanakan Qiyam ramadhan (tarawih) karena Allah dan mencari pahala dari
Allah akan diampuni dosanya yang telah lalu. Kemudian Rasulullah wafat, sedang
masalah Qiyam Ramadhan tetap seperti sediakala pada pemerintahan Abu Bakar dan
pada awal pemerintahan Umar bin Khattab).
Dengan rajin dan tekun melaksanakan puasa dan shalat tarawih
dengan tulus mencari ridho dan pahala dari Allah, niscaya dosa dan kesalahan
kita kepada Allah telah terampuni kecuali dosa syirik sehingga kita menjadi
hamba yang bersih dari dosa. Setelah dosa kita diampuni Allah, maka tahapan
selanjutnya adalah membersihkan dosa kita kepada sesama manusia.
Idul Fitri atau kembali ke fitrah akan sempurna tatkala
terhapusnya dosa kita kepada Allah diikuti dengan terhapusnya dosa kita kepada
sesama manusia. Terhapusnya dosa kepada sesama manusia dengan jalan kita
memohon maaf dan memaafkan orang lain.
Nah, dengan momentum Idul Fitri ini kita mari jadikan sebagai
sarana meminta maaf dan memaafkan orang lain dengan bersilaturrahim (menyambung
kasih sayang) baik kepada suami atau istri, kedua orang tua, anak, keluarga,
sanak kerabat, tetangga serta teman dan relasi kita ketika ada kebencian
terhadap mereka. Sebab kasih sayang merupakan lawan dari kebencian. Sehingga
orang yang dalam dirinya ada kebencian pada suami atau istri, orang tua, anak,
keluarga, sanak kerabat, tetangga, teman dan relasi disebut dengan pemutus
kasih sayang (Qathiul Rahim). Orang yang memutuskan kasih sayang (Qathiul
Rahim) dalam hadis shahih dijelaskan bahwa mereka ini tidak akan masuk surga.
Sebagaimana sabda Rasul:
أخرج
البخاري: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ
عَنْ ابْنِ شِهَابٍ أَنَّ مُحَمَّدَ بْنَ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ قَالَ إِنَّ
جُبَيْرَ بْنَ مُطْعِمٍ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ
(Dari
Yahya bin Bukair dari al-Lais dari Uqail dari Ibn Syihab bahwa Muhammad bin
Jubair bin Muth’im berkata bahwa ia mendengar Nabi SAW bersabda : pemutus
kasih sayang tidak akan masuk surga).
Di
hadis lain juga dijelaskan:
أخرج أحمد:
حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ حَدَّثَنِي الْخَزْرَجُ يَعْنِي ابْنَ
عُثْمَانَ السَّعْدِيَّ عَنْ أَبِي أَيُّوبَ يَعْنِي مَوْلَى عُثْمَانَ عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ إِنَّ أَعْمَالَ بَنِي آدَمَ تُعْرَضُ كُلَّ خَمِيسٍ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ
فَلاَ يُقْبَلُ عَمَلُ قَاطِعِ رَحِمٍ
(Dari
Yunus bin Muhammad dari al-Khazraj (Ibn Usman al-Sa’diy dari Abi Ayub (Maula
Usman) dari Abi Hurairah berkata : aku mendengar Rasulullah SAW bersabda :
Sungguh perbuatan Bani Adam (manusia) dilaporkan setiap kamis malam jum’at,
maka tidak akan diterima perbuatan (baik) orang yang memutuskan kasih sayang).
Di samping kita meminta maaf dan memberi maaf, kita juga
harus dan wajib sebisa mungkin menjadi pribadi pemaaf. Memberi maaf berbeda
dengan pemaaf. Kalau memberi maaf itu terjadi ketika ada orang yang meminta
maaf, sedang pemaaf adalah orang yang memberi maaf atas kesalahan orang lain
sebelum orang tersebut meminta maaf kepadanya. Hal ini dengan tegas ada dalam
surah Ali-Imran (3) ayat 134 :
الَّذِينَ
يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ
وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
(Penghuni
surga adalah) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang
maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan)
orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.
Dengan demikian, mari kita jadikan Idul Fitri tahun ini
berbeda dengan Idul Fitri di tahun-tahun sebelumnya karena kita telah memahami
akan makna Idul Fitri. Dengan kita maksimalkan bersilaturahim untuk meminta
maaf, memberi maaf dan menjadi seorang pemaaf. Jangan biarkan kedengkian dan
kebencian merasuk kembali ke jiwa kita yang telah fitri (suci).
Dengan momentum ini pula, saya Muhammad Makmun sebagai mahluk
yang banyak dan penuh dengan kesalahan dan dosa, baik yang saya sengaja atau
tidak, dengan tulus saya memohon maaf lahir batin atas semua kesalahan dan dosa
saya kepada anda semua. Begitu juga sebaliknya, jika ada kesalahan dan dosa
anda semua kepada saya, dengan lapang dada saya memaafkan anda. Dengan harapan,
semoga kita semua menjadi manusia bersih sebagaimana bayi yang baru dilahirkan
dari kandungan yang tak punya salah dan dosa.
من العائدين والفائزين, كل
عام وأنتم بخير
Makna Ramadhan Dan Hari Raya Kemerdekaan RI
Ramadhan
tahun ini bersamaan waktunya dengan
bulan Agustus. Bersamaan datangnya bulan Ramadhan dengan masuknya bulan Agustus
bukanlah sesuatu peristiwa yang luar biasa. Alam telah menentukan terjadinya
kesamaan itu. Dalam perjalanan sejarah manusia, setidaknya sejak sistem
penanggalan Masehi dan Hijrah diperkenalkan, sudah ratusan kali bulan Ramadhan
bersamaan waktunya (secara keseluruhan atau sebagian) dengan bulan Agustus.
Namun, bagi bangsa Indonesia
umumnya dan umat Islam Indonesia
khususnya, bersamaan datangnya bulan Ramadhan dan Agustus memiliki makna
tersendiri. Tidak itu saja, kesamaan itu telah melahirkan sejumlah mitos di
kalangan anak bangsa ini. Makna apa dan mitos apa yang hadir dari kesamaan itu?
Secara historis, kemerdekaan RI
yang diproklamirkan pada 17 Agustus 1945 itu bersamaan waktunya dengan 8
Ramadhan 1364 H. Dengan demikian, telah menjadi kenyataan, kemerdekaan RI
dinyatakan pada bulan Ramadhan. Karena itu, Ramadhan dan Agustus dimaknai
sebagai bulan kemerdekaan, baik dalam pengertian rohani/jiwa atau dalam
pengertian fisik. Ramadhan dimaknai sebagai bulan kemerdekaan rohani, jiwa,
mental dan spritual dari cengkeraman hawa nafsu, dari godaan dan rayuan setan
laknatullah. Agustus dimaknai sebagai bulan kemerdekaan warga dan bangsa Indonesia
dari genggaman, penindasan, serta eksploitasi kaum kolonialis dan imperialis.
Dengan kata lain, orang Indonesia
umumnya dan umat Islam Indonesia
khususnya memaknai bahwa bulan Ramadhan dan Agustus sebagai bulan kemerdekaan.
Sebagai bagian dari homo symbolicus
atau homo myth, telah beragam mitos dibuat, diciptakan, dan dihadirkan oleh
orang Indonesia mengenai kesamaan ”jatuhnya” Ramadhan dan Agustus itu.
Perayaan—yang umumnya dikhidmat-khidmatkan—dilaksanakan bila 17 Agustus jatuh
pada Ramadhan. Seiring dengan itu, pidato para pejabat khususnya juga bersifat
lebih religius. Perayaan 17 Agustusan pun juga lebih sopan dan bernuansakan
islami. Mitologisasi juga terlihat dari adanya sejumlah kota/daerah di
Nusantara ini yang mencarikan hari lahirnya dengan cara mengait-ngaitkan
kelahirannya dengan peristiwa historis yang terjadi pada saat bulan Ramadhan
yang bersamaan waktunya dengan bulan Agustus.
Secara historis, mitologisasi
kemerdekaan dalam hubungan antara Ramadhan dengan Agustus mulai dikemukakan
tahun 1946, tepatnya pada saat Indonesia
merayakan hari kemerdekaannya yang pertama. Pada saat itu, secara kebetulan
atau tidak, berbagai pidato petinggi negara, mulai dari Presiden Soekarno, para
gubernur, residen, bupati, wedana, camat, dan kepala desa, serta tidak
terkecuali para pemimpin formal atau infomal mengaitkan spirit kemerdekaan
rohani/jiwa yang diperoleh melalui puasa Ramadhan dengan kemerdekaan fisik 17
Agustus 1945 yang didapat dengan perjuangan lahir dan batin menentang para
penjajah. Berbagai spanduk yang dipasang dan coretan yang dibuat saat itu juga
berisikan pernyataan yang sama. Dari berbagai sumber sejarah diketahui, bahwa
fenomena ini terjadi di hampir seluruh pelosok negeri, termasuk di
daerah-daerah yang mayoritas penduduknya non-muslim (yang tidak memahami
Ramadhan sebagai bulan puasa).
Sejak tahun 1946 hingga saat
sekarang, dalam berbagai kesempatan, terutama bila Ramadhan datang bersamaan
dengan bulan Agustus, maka mitos-mitos tersebut kembali diapungkan.
Tahun ini, aroma mitologisasi makna
kemerdekaan dari kesamaan masuknya Ramadhan dengan Agustus telah tercium di
atmosfer bangsa. Beberapa pejabat dan politisi khususnya serta penceramah atau
penulis umumnya telah menghangat-hangat hubungan antara Ramadhan dengan
kemerdekaan RI itu. Bahkan, ada yang mewacanakan bahwa perayaan kemerdekaan RI
yang jatuh pada bulan Ramadhan tahun ini sejatinya diisi juga dengan
”pemerdekaan” atau pengampunan dan pembebasan sebagian anak bangsa yang telah
berbuat dosa (yang memaling dan mengorup uang rakyat dan harta negara).
Mitologisasi akhir-akhir ini (apalagi
yang disebut terakhir di atas) sangat jauh bedanya dengan mitos-mitos kesamaan
antara Ramadhan dan kemerdekaan RI yang diciptakan para pemimpin di masa
lampau. Di masa lampau mitos itu diciptakan untuk menumbuhkan rasa cinta pada
tanah air. Mitos dibuat juga untuk menghadirkan sikap mau berkorban dan rela
menderita bagi anak negeri guna kemerdekaan dan keutuhan bangsa. Penciptaan
mitos tahun 1946—sebagai contoh—adalah sebagai bagian upaya pemimpin negeri
untuk menumbuhkan semangat perlawanan (patriotisme dan nasionalisme) anak
bangsa menghadapi kedatangan kembali Belanda (NICA) yang membonceng bersama
tentara sekutu. Di samping itu, mitos tahun 1946 tersebut dibuat oleh para
pemimpin yang telah teruji kenegarawannya. Mitos yang dibuat dewasa ini (apalagi
yang terakhir), cenderung tidak menyentuh kepentingan keseluruhan anak bangsa
dan tidak ditujukan untuk kepentingan negara bangsa. Dan, sejalan dengan itu,
para pencipta mitosnya juga bukan para politisi dan pejabat yang mumpuni,
mereka bukan pemimpin dan bukan negarawan.
Mitos memang perlu, tetapi kalau
terlalu banyak mitos akan menimbulkan dampak negatif bagi pertumbuhan jiwa anak
bangsa. Apalagi sebagian mitos itu sesat, menyesatkan, serta tidak cerdas.
Padahal, pandangan, gagasan dan ide yang bernas, serta orang cerdaslah yang
dibutuhkan bangsa ini
Langganan:
Postingan (Atom)


















